Senin, 17 Juni 2013

Keluarga Besar yang Hebat (CoperlazA)




Senja siap menenggelamkan sinarnya. Mengubah langit jingga menjadi lebih gelap. Pelan-pelan memunculkan rembulan dengan anggun. Begitu pula bintang tak absen untuk menghias langit hitam menjadi lebih meriah. Lengkap sudah, hari telah benar-benar malam.

Aku termenung. Kenangan itu menyambutku kembali. Bak kaset yang sengaja diputar lagi. Semua terbungkus menjadi sebuah nostalgia indah yang menemani malam berbintangku. Cerita ini tentang sebuah keluarga besar yang luar biasa hebat. Sebut saja CoperlazA.



(Photo is edited by Atika Pratiwi)



Saat aku duduk disini, menikmati gemerlap bintang lewat jendela kaca kamarku, aku menyadari banyak hal tentang mereka. Tentang betapa istimewanya mereka. Tentang betapa hebatnya mereka. Bodohnya aku yang terlambat menyadari, mereka adalah bagian kebahagiaanku selama tiga tahun ini.

Tak akan ada artinya lagi sebuah penyesalan. Waktu tak pernah mengijinkan kami kembali ke masa itu. Bahkan sekarang bisa dibilang tinggal menghitung hari untuk kata berpisah. Untuk melucuti senjata perlindungan kita bersama. Untuk pelan-pelan melepas genggaman tangan erat kita.

Kalau boleh aku mengakuinya, aku takut. Bahkan mengenang sebuah kelas dengan tiga puluh dua siswa, tiga puluh dua tingkah laku, tiga puluh dua hal ajaib, itu semua menyesakkan.

Biarpun aku tak pernah menjadi siapapun untuk kalian. Walaupun aku hanya gadis cerewet yang suka mengatur, sok tau, ikut campur, walaupun aku ini anak yang tidak asik bagi kalian. Atau mungkin aku hanya asik untuk di soraki “Hmm” setiap kali mengatakan sesuatu. Hanya asik untuk menjadi bahan tertawa. Tak apa, aku tak sepenuhnya kesal. Apapun itu diriku dimata kalian asalkan itu artinya aku adalah bagian dari kalian, tak apa.

Yaa, tapi kalian selalu berarti bagiku. Kalian selalu istimewa. Dengan keajaiban-keajaiban yang kalian ciptakan sendiri. kalian selalu hebat dimataku.

Untuk dia, yang aku tak bisa menyebut namanya. Terimakasih telah mengenalkanku pada sebuah rasa. Terimakasih telah menjadi seseorang yang pernah menyayangiku. Terimakasih untuk hari-hari yang entah kau tahu atau tidak aku sangat menghargainya. Terimakasih telah mengajariku bagaimana rasanya menyayangi dan di sayangi. Terimakasih untuk membuatku tahu rasanya memiliki seseorang yang berharga, dan bagaimana menjaganya. Terimakasih telah menjadi orang pertama yang mengajarkanku rasa sakit itu. Membuatku belajar bangun dari rasa sesak yang menghimpitku setiap malam. Terimakasih.

Untuk Nizar, yang menjadi sahabat yang hebat. Mau mendengar ceritaku meski mungkin itu merupakan hal membosankan untuk didengar. Selalu memberi tanggapan yang berbeda, simpel tapi mengena. dan kau menjaga cerita itu lebih baik dari siapapun. Terimakasih.

Untuk Vira, sahabat sekaligus kakak yang baik. Entah dia tahu atau tidak aku sedikit iri padanya. Bagaimana tidak, dia pintar,  baik, terkenal (bisa dibilang) di elu-elukan, dan diluar itu semua, dia begitu cantik. Terimakasih selalu ada untuk menemaniku. Menjadi dewasa untukku. Terimakasih karena selalu berbagi ceritamu denganku tanpa kuminta, dengan begitu aku tahu rasanya dianggap ada. Kau selalu hebat dimataku. Bahkan ketika kita kau berada di tempat yang berbeda, kau masih mau menanyakan kabarku, beberapa kali menelfon. Kau selalu menghargai karyaku. Aku senang setiap kali kau bilang “Disini tidak ada yang sehebat dirimu”. Biarpun seisi dunia menyangkalnya, biarpun itu hanya kalimat basa-basi, biarpun kau mengatakan itu pada semua teman di Jogja, aku tetap senang. Lebih senang lagi setiap kali kau berkata bila kau sedang merindukanku.  

Untuk Vita dan Ahya, kalian adalah sepaket yang tak lepas. Terimakasih telah menjadi sahabat yang mau menemaniku. Termakasih kalian telah mengajarkanku untuk mengurangi keegoisanku. Terimakasih telah membuatku pelan-pelan menyadari bagaimana bersikap. Biarpun ada beberapa sakit yang sering ku tanggung, terimakasih kalian mengenalkanku pada hakikat rasa sakit itu. Dan membantu belajar menanganinya. Terimakasih untuk menjadi teman berbagi, terutama untuk masalah K-Pop.
           
Untuk Sureya, gadis penyayang yang jail minta ampun. Terimakasih untuk semuanya. untuk kepercayaan yang ada pada dirimu. Untuk selalu menjadi orang yang pertama kali memberiku semangat, meski aku mengacuhkannya, dan menjadi orang terakhir untuk menyerah atas ketidak perdulian dan keegoisanku. Terimakasih (entah bohong atau tidak) kau telah menjadikanku bintang. Untuk selalu ada disampingku dan menemaniku setiap saat bahkan ketika dunia mengacuhkanku. Maaf aku menjadi orang yang terlambat menyadari kehadiranmu. Menjadi orang yang kasar dan cuek padamu. Tapi orang benar, kasihmu yang tulus itu telah meluluhkan keegoisanku. Kau tahu kenapa aku selalu memanggilmu “Bubun”? itu karena kasih sayangmu begitu tulus dan tak pernah berhenti, tak pernah memintaku untuk perhatian kepedamu juga. Karena kau tak perduli betapa aku menghiraukanmu. Kau selalu ada. terimakasih telah menjadi pasangan lubang hidung untukku (kata Pak Ridi, Aku dan Sureya kaya sepasang lubang hidung yang nggak pernah pisah).  Kalau kau berharap menjadi sahabat yang baik untukku. Lupakan, kau lebih dari itu.
           
Untuk Shasa, yang moodnya nggak stabil. Kadang kekanak-kanakan, kadan ribut minta ampun, kadang diem aja nggak mau diganggu, kadang romantis tingkat dewa, kadang alay. Apapun itu, itulah kamu. Terimakasih untuk semuanya. Untuk motivator yang tak pernah kau sadari. Untuk menjadi Sahabat yang ajaib. Untuk menemaniku ketemu bang Tere (yeaay!!). untuk semuanya.
           
Untuk Tika, yang selalu jadi adik yang baik. Selalu menjadi pendengar yang hebat. Selalu sederhana tapi hebat. Selalu nemenin naik bis.
           
Untuk Primas, yang selalu sabar menghadapi aku yang kekanak-kanakan. Yang menjadi dewasa untukku. menjadi orang yang (sampai sekarang) cukup misterius untukku. well, terimakasih untuk menjadi pendengar yang baik. Selalu berbagi ceritamu. Terimakasih. :D
            Untuk Oka, yang aku juga nggak ngerti. Kadang baik, kadang nyebelin. But, thanks kamu membantu banyak untuk aku dan dia.
           
Untuk Yusi, Annis, Clara, Asti, Becky, Chinddhy, Fildza. Sekumpulan anak yang super seru (baca: super nyebelin dan jail) yang selalu bikin rame kelas. Selalu bikin malu, bikin heboh. CoperlazA sepi tanpa kalian. Well, meskipun kalian sering banget jail. Aku yakin nggak ada yang bener-bener serius. Kalian bener-bener sekelompok anak yang seru (honestly). Big thanks untuk meramaikan kelas.
           
Untuk Bhaga, cowo keppo eang butuh cindtha *ups. Makasih kamu masuk dan menjadi pelengkap yang keren.
           
Untuk Ayu, gadis yang supeeerrr dupeer mega sabar ngadepin kejailanku. Nggak pernah marah. Selalu ngajarin aku. Dan untuk jadi temen semeja yang setia setahun ini. Thanks dear.

            Untuk Fadli, meskipun dia rusuh banget, tapi dia yang selalu bikin ketawa dengan tingkahnya yang super innocent itu. Meskipun dia jadi pemimpin untuk mengolokku (kayaknya sih gitu). Tapi makasih. Telah memperiku perhatian dalam bentuk yang berbeda.
           
Untuk setiap nama yang belum tersebut. Meski aku tak pernah mengenal kalian dengan baik, meski kalian membenciku. Kalian adalah teman-teman yang super hebat! Kalian adalah bagian CoperlazA yang tak akan tergantikan oleh siapapun juga. Dengan tingkah lalu kalian yang tidak biasa, maka dengan itu terlahirlah CoperlazA. Kelas yang komplit dan semua ada.

            Untuk tiga puluh dua pasukan yang teramat hebat, maafkan aku. Karena aku tak menjadi teman yang menyenangkan, karena aku yang terlewat egois, sok mengatur, sok dewasa, tidak asik. Maafkan aku karena terkadang aku sangat menyebalkan. Biarpun aku bukan siapa-siapa untuk satu orangpun dari kalian, aku ingin kalian tahu, aku bersyukur pernah mengenal kalian.

Biarkan waktu berjalan memenuhi tugasnya. Meninggalkan cerita yang akan terus berbekas. Biarkan hari terus berlanjut. Memberikan pemahaman tentang arti sebuah kebersamaan. Biarkan waktu terus berputar. Membawa kita pada sebuah perpisahan.

            Kawan, waktu itu tak pernah terlambat datang membawa janjinya. Meskipun itu adalah sebuah perpisahan yang dengan sekuat tenaga kita menyangkalnya. Biarpun mata kita tak tak saling memandang, biarpun tangan kita tak saling menggenggam, tapi sungguh aku berharap Tuhan tak pernah benar-benar memisahkan kita.

            Jalan terbentang disana, kawan. Ambil jalan yang kau pilih, buktikan pada dunia bahwa kita bisa mengambil bintang terang itu. Menjadi pribadi yang lebih baik dengan pemahaman baik. Membawa janji esok yang lebih baik.

            Tulisan ini tak akan pernah mewakili satu dari sekian kisah aku bersama kalian. Satu dari rasa syukur teramat besar untuk pernah ada dan menjadi bagian dari kalian. Tak pernah mengungkapkan betapa aku berterimakasih atas semua yang kalian lakukan. Tak pernah menyampaikan maafku yang teramat dalam untuk menjadi teman kelas yang tidak seperti apa yang kalian harapkan.

            Semoga kalian bisa melewati jalan kalian dengan baik. Memiliki pemahaman yang baik tentang kehidupan. Mengambil mimpi yang selalu kalian rajut. Semoga Tuhan memudahkan semuanya.

-Ruri Annisa-
                       







Rabu, 15 Mei 2013

Kaca Mata yang Lain


Greatest thanks for kak Elfa Mayasari, sahabat yang jauh disana
Happy reading, chek this out! =)

“Fa, kamu mau pesen apa?” dia diam. “Elfa!” aku mengulangi, lebih keras.

“Iya May, ada apa?” dia menoleh, salah tingkah. Aku menghela nafas lagi, yang ke sebelas kalinya untuk tiga setengah jam terahir. Aku tidak melebih-lebihkan atau mengada-ada. Benar-benar yang ke sebelas dan aku menghitungnya dengan cermat.

 Tujuh  hari terakhir ini Elfa selalu begitu. Melamun, menerawang, susah diajak bicara, bengong, diam. Aku tak menyangkal kalau aku kesal, lelah, marah, jengkel, atau apalah. Bagaimana tidak, kau bicara panjang lebar hanya di jawab “uh?” atau bahkan tidak di respon. Sulit sekali untuk meneguhkan hatiku agar tidak berteriak di depan mukanya atau pergi dengan hentakan amarah.
      
Kalau saja aku tak tahu alasannya, aku sudah memaki-makinya sejak hari pertama. Namun, itu takkan pernah membantu. Aku mengerti Elfa, menjadi saksi hatinya yang dihancurkan, melihat sendiri saat pisau itu mengoyak hatinya, menyakiti jiwanya, merenggut senyumnya. Aku tau setiap detilnya.
            
Aku ada disana. Hari itu adalah hari ke empat puluh dua sejak pertemuan pertama Elfa dan Danis. Mereka berdua adalah sahabatku. Aku yang mempertemukan mereka. Elfa menyukainya saat pertama kali bertemu. Aku tahu, tanpa dia bercerita panjang lebar, aku hafal mati tatapan tulus itu, senyum manja itu.
            
“Fa, nggak tahu sejak kapan. Tapi aku suka kamu, aku suka senyum kamu. Aku suka semua tentang kamu. Aku mau hubungan kita lebih dari teman. Kamu mau jadi pacar aku?”
           
 Aku menoleh, terkejut. Mengamati bola mata laki-laki itu. Bohong! Tak ada bunga yang tergambar di sama, tak ada wajah tersipu ataupun kebahagiaan tulus. Tidak ada, sama sekali tidak. Elfa mengangguk pelan. Gadis bodoh yang malang. Kisah ini akan sedikit berbahaya, Elfa!
            
Aku tak pernah sampai hati mengatakan kebohongan cinta Danis. Sejak dia menangis haru detik itu juga. Aku tak pernah jujur atas apa yang aku lihat. Aku terlalu takut. Takut akan penolakan, takut kenyataan itu akan merobek kebahagiaan Elfa, gadis yang selalu ku jaga, dia sahabatku. Jadi kuputuskan, biar Gadis itu yang menanam benihnya, menyemai tunasnya, memupuknya dengan rajin, sampai tumbuh menjadi pohon perasaan yang lebat.
Mereka tak pernah tahu aku selalu menjadi saksi potongan kisah mereka. Tak pernah absen untuk menyaksikan.
            
Minggu-minggu pertama semua baik-baik saja. Seperti pasangan baru lainnya. Romantis, bergandengan tangan kesana kemari, tertawa, bercanda. Tapi semua tetap masih samar jika dilihat dengan kacamata yang berbeda. Tak ada cahaya itu di mata Danis. Cahaya itu hanya bertengger di mata Elfa. Sangat terang.

“Kamu dari mana saja Danis? Kok lama banget?” Elfa berdiri membersihkan bajunya ketika Danis menjemputnya sepulang sekolah. Terlambat setengah jam dari biasanya. Ini adalah minggu ke delapan.  
           
 “Nggak dari mana-mana, sayang. Tadi motornya agak bermasalah.” Jawab Danis dengan manis sekali. Elfa tersenyum
            
“Kamu sudah makan?” Elfa menyodorkan sebotol air mineral, mengelap keringat di kening Danis.
           
 “Udah. Kamu belum makan?” Elfa menggeleng kecewa. Bagaimana mungkin gadis itu akan makan siang? Dia menunggu untuk makan berdua dengan Danis. Makan siang Nasi goreng buatannya.
        
 “Kamu kan bukan anak kecil, Elfa. Masa iya aku harus ngingetin kamu makan” Elfa sedikit terperanjat atas jawaban Danis. Tapi dia menutupinya dengan seulas senyum manis. Mengangguk.
           
 “Ayuk pulang!” Danis menghidupkan lagi motornya, memutar gas saat Elfa duduk di di belakangnya. Aku menjadi saksi, mata yang berkaca-kaca dan bibir tersenyum itu.
            
Sesampainya di rumah Elfa dia mempersilahkan Danis masuk. Danis menggeleng sopan, ada urusan. Gadis itu tersenyum, melambaikan tangan.
           
Malamnya, dengan perasaan gelisah luar biasa, Elfa mencoba menghubungi Danis. Mengirimnya Pesan singkat, bbm, berkali-kali menelefon. Tidak ada jawaban, tidak ada balasan. Gadis itu tetap sabar. Berkali-kali menguatkan matanya agar tidak terpejam. Menunggu balasan. Sungguh, gadis itu terlalu sabar.
           
Pukul setengah dua belas malam. Layar ponsel Elfa berkedip-kedip dan mengeluarkan dentingan. Dengan senyum lebar, buru-buru ia membukanya. “Elfa berisik. Ganggu bgt” empat kata, menggores pelan hati gadi itu. Elfa hendak membalasnya dengan kata maaf. Urung, dia lebih memilih membujuk matanya untuk tidur, menenggelamkan rasa sakitnya dalam mimpi yang indah, berharap esok pagi ia akan terbangun dengan seulas senyum. Hati bersih yang telah terobati.
            
Satu hari lagi telah berakhir. Berganti hari baru, semangat baru, kisah baru, janji kehidupan baru. Aku dan Elfa duduk di bangku taman kampus, menyesap secangkir creamy cappucino, menikmati setiap nyanyian yang dinyanyikan pohon-pohon dan burung-burung.
Laki-laki itu datang.

“Fa, maaf ya. Tadi malem aku lagi bete banget. Maaf aku ketus.” Danis menghampiri bangku kami berdua. Elfa menyelipkan rambutnya ke belakang telinga, tersenyum.

“Nggak, papa. Aku udah maafin, kok,” satu senyum lagi. Senyum sangat tulus.

“Aku tetep nggak enak, Fa. Kamu Cuma kuliah sampai jam dua kan? Kita ketemuan disini ya, jam dua. Aku akan menebus salah aku, Fa”senyum Elfa melebar. Hatinya melonjak. Mengangguk riang.

“Oke, aku masuk dulu, ya. Dah, Maya!” Danis melambaikan tangan ke arah kami. Aku tersenyum tipis.

“Maya, akhirnya dia ngajak jalan lagi!” Elfa mengguncang tanganku.

“Elfaa, aku denger, kalik!” kucubit pipinya dengan gemas.

“Sakit, Mayaa! Masuk yuk!” aku menggandengnya, berjalan beriringan dengannya.

Bagaimana mungkin, Elfa kau tak melihatnya? Aku menggenggam tangannya lebih erat. Berharap bisa menjaga  hatinya. Berharap semua akan baik-baik saja. Biarkan aku bisa melihat senyum bahagia itu di wajahnya.  Biarkan aku selalu mendapat semangat dari sinar yang selalu terbit di matanya itu.

Jam perak yang melingkar di tangan kiri Elfa telah menunjukkan setengah jam lebihnya dari jam dua. Baru terlambat setengah jam. Aku memainkan setangkai dandelion di tangan kiriku, dengan tangan kanan jail mencubit-cubil tangan kiri Elfa.

“Maya apaan sih?” Elfa sewot menggembungkan pipinya. Aku tertawa.

“Makan yuk, Fa! Udah jam setengah tiga ini!”

“Makan lah, May. Nanti kalau Danis ngajak makan siang dan aku udah makan kan nggak lucu”

“Yaudah, tar makan lagi. Kan perut kamu bisa melar gitu!”

“Maya ih bercanda terus!”

“Ayo Fa, makan!”

“Mayaaaa!”

“Appan sih, Fa?” dia menyerah. Diam.

Aku juga diam, mengamati gadis itu. Sebentar-sebentar mengecek ponsel, menggerak-gerakkan kaki dengan gelisah, menghela nafas, menguap. Setengah jam berlalu, satu jam, dua jam. Setengah empat!

“Fa, udah setengah empat. Dia nggak dateng, mungkin lupa. Ayo kita pulang!” aku menggenggam tangannya.

“Dia pasti dateng, May. Kamu pulang dulu aja. Nanti tante nyariin,” Elfa tersenyum mengangkat bahu.

Aku mengemasi barang-barangku. Pamit, tapi tak pernah benar-benar pergi. Aku selalu tau ceritanya tanpa Elfa mengatakannya. Paham betul setiap detilnya. Meskipun antara Danis maupun Elfa tak ada yang menyangka aku tau lebih dari apa yang mereka ingin aku tahu.
Hari sudah gelap. Gadis itu masih duduk disana. Sangat sabar menunggu kabar baik itu datang. Tapi rencana Tuhan tak begitu, tak seperti apa yang ia inginkan. Denis tak pernah datang.

Elfa berdiri dari tempat duduknya saat waktu menunjukkan pukul tujuh kurang sepuluh menit. Berjalan lemah, cemberut sepanjang jalan. Aku tau dia tak akan pulang, dia tak menyerah begitu saja. Langkah kakinya membawa tubuhnya ke rumah Danis.

Dia menunggu di sana, di depan gerbang yang tertutup. Mendekap tubuhnya yang mulai kedinginan. Menatap nanar layar ponselnya. Sesekali mengirimi pesan singkat. Tak bosan, masih tetap luar biasa sabar. Aku menurunkan kaca mobil, menjaganya dari jauh.

Jam setengah delapan, Elfa membeli dua bungkus nasi Goreng. Berharap makan malam akan menggantikan kisah yang hilang. Lalu duduk lagi, menanti dengan teramat sabar.

Tepat pukul delapan. Sebuah mobil putih merayap dan turun di depan gerbang rumah Danis. Elfa mulai bersemangat kembali. Sayangnya, kenyataan yang ada lebih menyakitkan, lebih perih, Danis memang pulang. Tapi dia tidak sendiri, dia bersama Melissa.

“Elfa, ngapain kamu disini?” Dani menaikkan sebelah alisnya. “Eh, ini Melissa, mantan aku,” dia melanjutkan. “Lis, ini Elfa pacar aku.” Tanpa rasa bersalah Danis mengenalkan keduanya.

“Aku pulang ya, Danis” Lissa memegang kemudi lagi. Menginjak gas, pergi, berlalu.

“Ada apa, Fa?” Danis bertanya lagi.

“Aku bawain nasi goreng buat kamu,” suaranya bergetar.

“Kamu makan aja, Fa. Aku udah makan tadi. Aku masuk ya, capek banget. Kamu mau masuk?” Elfa menggeleng. Ada sebuah bendungan dimatanya. Danis pergi, berlalu, tanpa perduli lagi.

Lepas sudah, air mata yang ia tahan mengalir begitu saja. Secuil kendali diri yang ia bangun kini hancur berkeping-keping. Ya Tuhan, sungguh aku pernah tahu rasa itu, dan sungguh Kau tak pernah salah menuliskan takdir. Bukakan segera bagian indah yang Kau janjikan itu, Tuhan. Gadis yang teramat sabar itu terluka.

Aku mengemudikan mobilku mendekati rumah Danis. Kini tiba bagianku. Aku akan ambil peran, berpura-pura kebetulan lewat.

“Elfa, kamu ngapain disini? Kamu belum pulang?” aku turun dari mobil dengan tergesa-gesa. Membujuk hatiku agar tak ikut menangis. Aku nggak nyangka Denis, kamu melukai gadis berhati lembut ini.

“Ayo kita pulang. Kamu tidur di rumah aku aja ya. Takut ganggu anak kos lain kalau kamu pulang jam segini,” Elfa memang tinggal di kos-kosan. Jauh dari orang tuanya. Maka dari itu aku yang selalu berusaha menggantikan peran keluarga, meski tak pernah sama, atau bahkan mendekati.

Dia tak menolak sedikitpun. Hanya menatap kosong keluar jendela. tak bicara apapun. Tidak juga menangis. Tapi lebih dari itu. Sebuah sakit yang bahkan tak cukup hanya digambarkan dengan air mata.

Sesampainya di rumah, mama menyiapkan air hangat. Aku menyajikan makanan, membujuknya makan. Tak ada yang bertanya apa yang terjadi, kami semua tau, dia akan bercerita jika waktunya tiba. Setelah mandi dan makan Elfa meringkuk di tempat tidur, mencoba menenggelamkan rasa sakit di rongga dadanya ke dalam mimpi yang indah, berharap esok pagi ia akan terbangun dengan seulas senyum. Hati bersih yang telah terobati.

Dilihat dari kaca mata siapapun, tak perduli kaca mataku, kaca mata kalian, bahkan kacamata Tuhan. Elfa adalah gadis yang luar biasa. Pagi harinya dia bangun sudah riang kembali, sudah ceria, menggulingkanku sampai jatuh dan terbangun, menyapa mama, membatu memasak, dan menyiapkan nasi goreng untuk Danis.

Aku memang selalu tahu kisah lengkapnya, selalu tahu detil ceritanya. Tapi aku tak pernah masuk ke dalam hatinya, aku tak pernah tahu apa yang ia pikirkan dalam semalam, apa yang ia putuskan, aku tak pernah tahu.

“May, nanti temenin aku ke fakultas Danis ya. Nganterin ini,” ucapnya di sela-sela sarapan. Aku hanya tersenyum, mengangguk.
***

Tuhan, sungguh, Kau yang mengatur semua ini. Kau yang paling tahu.

Mentari tepat berada di atas kepala.Elfa dengan gemas menarik tanganku. Mencari-cari sosok pujaan hatinya itu. Lima belas menit memutari lapangan di fakultas Denis. Seperti anak ayam kehilangan induknya. Sampai sudut mataku mengangkap sosok Danis, tapi tidak sendiri. Bersama Melissa.

“I. . . tu, Danis kan?” terlambat. Elfa menghentikan langkahnya dan bertanya terbata. Aku mengangguk patah-patah.
           
 “Danis!” Elfa memanggilnya.
           
 “Elfa, ngapain kamu disini?” tanyanya, lagi-lagi mengerutkan dahi.
           
 “Aku bawa makan buat kamu, Danis,” pelan-pelan tangan Elfa bergerak mengulurkan box makanan yang ia bawa.
           
 “Pacar kamu norak banget sih, Danis!” Melissa menyibakkan rambutnya. Detik berikutnya Danis menyeret Elfa, aku melotot galak kearah Lissa.
            
“Kamu denger, kan Lissa bilang apa? Kamu itu norak, Fa. Bawain makan siang pake box makanan butut begitu, memangnya aku anak TK? dan aku mau kasih tau kamu, kamu itu nggak kaya mantan-mantan aku. Kamu itu nggak stylish, bawel lagi. Tiap menit sms, nelfon, aku capek, Fa! Coba kamu belajar dari Lissa. Dia cantik, nggak bawel, fleksibel, mudah bergau, dan yang pasti dia nggak norak kaya kamu!”
          
 Bagai petir yang menyambar, menyentuh bagian paling sensitive, menghujani pelangi tanpa ampun. Keceriaan itu, kesabaran itu, memang tak pernah ada batasnya, kita sendiri yang membangunnya. Aku berani bersaksi, Elfa membangun batas kesabaran itu lebih panjang dari yang aku bangun, dan Danis telas melampaui garis yang tak seharusnya ia sentuh.
            
“Udah bicaranya?” Elfa angkat bicara, lemah,  “Aku Cuma mau kamu tau, aku bukan mantan kamu. Kami semua berbeda. Kalau kamu lebih nyaman sama mereka, get them back, I give you freedom. Aku nggak akan jadi siapa-siapa kamu lagi” over.
           
 Pergi, dengan luka yang tak tergambar oleh apapun. Kami berdua meninggalkan Danis dan Lissa yang terdiam. Aku sangat ingin menampar dua mahkluk mengerikan itu. Tapi ini bukan bagianku, bukan tempatku, bukan hakku.
            
Aku melingkarkan lenganku ke lehernya, mencoba mengalirkan semangat, menyembuhkan luka yang sedang menganga di hatinya. Aku memang selalu tahu kisah lengkapnya, selalu tahu detil ceritanya. Tapi aku tak pernah masuk ke dalam hatinya, aku tak pernah tahu apa yang ia pikirkan, apa yang ia rasakan, seberapa dalam pisau itu melubangi hatinya, aku tak tahu pasti.
          
Disinilah kami, tujuh hari setelah kejadian itu, di caffe kampus. Elfa menangis hebat setelah kami sampai di mobil. Sampai hari ini dia belum mendapatkan keceriaannya lagi.
            
Aku tahu rasa sakit itu, aku pernah punya.
            
Kalau aku boleh menebak, pasti kalian akan memaki Danis. Laki-laki brengsek, tidak punya perasaan, kurang ajar, atau apalah sebagainya. Sebagian besar memang begitu. Sebagian besar, tapi bukan berarti kisah ini seluruhnya salah Danis. Aku tidak mencoba membela laki-laki itu, dia memang bersalah.
            
Dengan kaca mata biasa, pasti terlihat Danis yang salah. Telak, tanpa ampun. Tapi dengan sebuah kaca mata lain, pengertian yang lain, pemahaman lain. Elfa memiliki persen kesalahan disini, dia begitu mencintai Danis, teramat. Sehingga dia lupa memberi celah untuk Danis merasakan hal yang sama, menumbuhkan rasa yang sama. Karena sesungguhnya, perasaan itu tak mudah dimengerti, kadang harus melewati masa sulit dulu, baru hati yang akan berkata.
            
Seperti saat ini, dengan berakhirnya hubungan Danis dan elfa. Tujuh malam Danis tidak bisa tidur nyenyak. Berkali-kali melirik ponselnya, berharap ada pesan masuk, berharap mendapatkan omelan bawel. Setiap siang menunggu Elfa mengantarkan nasi goreng, rindu. Hatinya telah sempurna menerjemahkan rasa. Danis tau dia telah jatuh hati pada Elfa. Terlambat. Semua telah berakhir. Takdir mereka berdua memang menyakitkan.
            
Tak ada yang bisa ku lakukan, hanya mendampingi. Memberi pemahaman bahwa hidup harus berjalan. Berharap Tuhan segera membukakan bagian terbaik yang Ia janjikan.